Perbedaan Diploma III Bidan dan Profesi Bidan

0
421

Indonesia saat ini memiliki tiga jenjang pendidikan kebidanan. Pertama pendidikan kebidanan tingkat diploma, tingkat sarjana plus profesi dan yang terakhir pendidikan kebidanan tingkat magister atau pascasarjana.

  1. diploma

Pendidikan diploma kebidanan terdiri atas diploma III (DIII) kebidanan dan diploma IV (DIV) kebidanan. Pendidikan DIII kebidanan pertama kali didirikan pada tahun 1996. Jumlah institusi pendidikan DIII kebidanan saat ini kurang lebih 500 institusi dengan jumlah mahasiswa 50 – 100 orang per angkatannya. Jenjang DIV kebidanan pertama kali didirikan pada tahun 2000 yaitu DIV bidan pendidik. Namun, sejak tahun 2017 DIV kebidanan tidak lagi menerima mahasiswa baru dari lulusan SMA. Selanjutnya pendidikan DIV kebidanan akan menjadi prodi profesi bidan dan menerima mahasiswa alih jenjang dari lulusan DIII  kebidanan.

Menurut Peraturan Menteri Ristek dan Dikti No 44 tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi menyebutkan bahwa jenjang pendidikan DIII memiliki beban belajar 108 SKS dengan lama masa studi 3 – 5 tahun. Dalam level KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) pendidikan DIII berada pada level 5. Level ini merupakan kelompok jabatan teknisi yang mampu menyelesaikan pekerjaan dengan menganalisis data, mampu menunjukkan kinerja dengan mutu dan kuantitas yang terukur, menguasai konsep teoritis bidang keilmuwannya secara umum serta bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri. Dalam undang – undang No 4 tahun 2019 tentang kebidanan disebutkan bahwa bidan lulusan diploma III hanya dapat melakukan praktik kebidanan di fasilitas pelayanan kesehatan seperti Rumah Sakit atau Puskesmas.

  1. Sarjana dan Profesi

Pendidikan Sarjana plus Profesi bidan petama kali didirikan di Indonesia pada tahun 2008 di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Satu tahun selanjutnya menyusul dibuka oleh Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dan tahun 2013 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas menyusul membuka Prodi Sarjana plus Profesi Bidan yang ketiga di Indonesia. Lama masa studi pendidikan Sarjana dapat ditempuh dalam waktu 4 tahun dengan beban belajar 144 SKS. Sedangkan pendidikan profesi dapat ditempuh selama 1 – 1,5 tahun maksimal 3 tahun dengan beban belajar 24 SKS.

Seorang bidan lulusan profesi dapat melakukan praktik kebidanan di Praktik Mandiri Bidan (PMB) dan di fasilitas pelayanan kesehatan lainnya seperti Rumah sakit dan Puskesmas. Untuk menjalankan praktik di PMB seorang bidan lulusan profesi harus memiliki dan memasang papan nama praktiknya.

Pada level KKNI lulusan profesi bidan berada pada level 7. Artinya level ini berada pada kelompok jabatan ahli yang memiliki kemampuan merencanakan dan mengelola sumber daya di bawah tanggung jawabnya, mengevaluasi secara komprehensif kerjanya untuk menghasilkan langkah-langkah pengembangan strategis organisasi. Mampu memecahkan permasalahan dalam bidang keilmuannya melalui pendekatan monodisipliner serta mampu melakukan riset dan mengambil keputusan strategis dengan akuntabilitas dan tanggung jawab penuh atas semua aspek yang berada di bawah tanggung jawab bidang keahliannya.

Berada di level 7 KKNI, seorang bidan lulusan profesi selain bekerja sebagai tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kebidanan  juga dapat bekerja sebagai peneliti atau asisten peneliti di sebuah institusi penelitian.

  1. Jenjang Magister/Pascasarjana

Saat ini jurusan S2/Pascasarjana kebidanan merupakan pendidikan tertinggi kebidanan di Indonesia. Program pascasarjana kebidanan pertama kali didirikan di Universitas Padjajaran tahun 2006. Pendidikan pascasarjana dapat ditempuh jika telah menyelesaikan program sarjana atau diploma IV Kebidanan. Setelah menamatkan pendidikan S2/pascasarjana Kebidanan seseorang berhak mendapatkan gelar Magister Kebidanan. Beban minimum belajar program pascasarjana adalah 36 SKS dengan masa studi 2 tahun maksimal 4 tahun.

Pada level KKNI lulusan pascasarjana berada pada level 8 artinya berada pada kelompok ahli yang memiliki kemampuan mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan/atau seni di dalam bidang keilmuannya atau praktek profesionalnya melalui riset, hingga menghasilkan karya inovatif dan teruji. Mampu memecahkan permasalahan dalam bidang keilmuannya melalui pendekatan inter atau multidisipliner, serta mampu mengelola riset dan pengembangan yang bermanfaat bagi masyarakat dan keilmuan, serta mampu mendapat pengakuan nasional dan internasional.

Secara umum selain bekerja dalam pelayanan kebidanan, lulusan s2/pascasarjana kebidanan juga dapat bekerja sebagai dosen, melakukan penelitian/riset atau bekerja pada pemerintahan di Dinas Kesehatan.

Sumber :

  1. https://www.ibi.or.id/id/article_view/A20150112006/pendidikan.html
  2. https://www.ibi.or.id/id/article_view/A20171218002/surat-kesepakatan-tentang-pendidikan-tinggi-kebidanan.html
  3. UU Nomor 4 Tahun 2019 tentang Kebidanan.
  4. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
  5. Peraturan Menteri Ristek Dan Dikti No 44 Tahun 2015 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi

Leave your vote

Comments

0 comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here